Check out music from Dy Murwaningrum

https://soundcloud.com/dy-murwaningrum

Foto saya
Solo- Jogja- Bandung, Indonesia
mencari kata-kata, membenturkannya pada setiap bidang dan terus memantul...
Tampilkan postingan dengan label Pribadi dan Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pribadi dan Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2018

Cerita Kosong Perpustakaan: Kemacetan dan Harapan



Di tengah-tengah tulisan-tulisan serius saya, tetiba saja saya fokus pada beberapa orang di perpustakaan yang mulai ramai. Kiranya tidak ada yang jauh berbeda pada jam-jam makan siang. Jika bukan karena makanan dan wifinya sekaligus, perpustakaan-perpustakaan milik pribadi tidak akan ramai antara jam 12 siang hingga jam 2 siang atau selepas jam kerja pukul empat sore. Sedang pada perpustakaan semi konvensional, seperti perpus-perpus kampus yang hanya menyediakan ruangan baca dan wifi, tentu akan tutup di jam 12 siang karena istirahat. Dan pengunjung terusir.

Tipe-tipe perpustakaan konvensional dan semi konvensional yang tutup di jam 12 siang, agaknya membuat emosi kita tiba-tiba berada di ujung-ujung kepala. Memutuskan saat membaca sebelum terhenti sendiri, rasanya memerosotkan rasa penasaran. Seperti saat kita sedang bercerita antusias, tiba-tiba lawan bicara berkomunikasi dengan androidnya. 

Siang ini, keramaian gurauan dan khas suara sendok garpu yang berbentur dengan piring serta aroma rokok dari bagian ruang smooking area mulai terbawa udara ke arah telinga dan hidung saya. Ada baiknya akhiri saja acara menulis hari ini. Buka lembar baru dan menulis cerita kosong dari perpustakaan, padatnya jalan raya dan perdebatan pagi tadi.

Bandung, cantik-cantik sadis. Begitu kata saya yang baru menetap 3 tahunan ini. Ada kalanya memang menyejukkan, meneduhkan, ramah dan sangat memberi semangat. Namun, tidak jarang juga melelahkan, pusing juga hinggap sebentar-sebentar. Aroma rokok hampir di setiap sudut jalan atau ruang-ruang nongkrong, membuat saya mengakrabi AC dan mall. Sopir angkot yang marah saat kita menunjukkan rasa terganggu karena asap rokoknya yang keluar sekaligus dari rokok, mulut dan hidungnya, membuat saya lebih senang menyopir sendiri. 

Puntung rokok, kulit kacang atau gelas bekas air mineral yang dilempar dari auto window mobil lawas sampai avansa atau pajero sesekali terlihat tiap pagi. Kadang terlihat 2x kadang juga sekali saja. Bukan hanya dari sopir angkot, mungkin dari pegawai bank, dosen, atau anak-anak kecil di mobil jemputan.

Air yang menyapa sambil menggebyur seolah terbahak-bahak dalam parasnya yang coklat campur lumpur atau kadang hitam tiap hujan datang, membuat saya tidak semena-mena lagi mengkonsumsi air kemasan dan stereofom. Lubang-lubang jalan seperti habis dihujani meteor, bertahan hingga durasi tahunan. Hari ini jumpa, esok jumpa, tahun depan pun kadang masih jumpa juga. Yang mengasyikkan adalah tengah kota tetap cantik, secantik pohon-pohonnya yang menebar oksigen tanpa syarat. Anak muda yang santu dan sopan, memberi salam hormat yang membuat saya haru, mencium tangan dan membentuk suka cita di pikiran saya. Membuat saya belajar, bagaimana hidup senantiasa harus dinikmati, disyukuri dan tersenyum. 

Bandung yang cantik, ramah, hanya kadang sadisnya membuat beberapa teman saya trauma untuk datang kembali kemari. Bagi saya, kota ini adalah gairah. Pemuda-pemudi baru yang saya temui, membuat saya merasa memiliki hidup dan tentunya harapan, meski masih sedikit. Harapan yang mungkin terlalu muluk-muluk. Harapan untuk mengajak mereka mengobrol tentang buku-buku di perpustakaan yang saya singgahi saat ini. Berbincang tentang pertunjukan sehabis kita tonton. Kegiatan-kegiatan itu yang saya rindukan, sama ketika saya tergabung dalam sebuah Lab Music bernama BnG. Kami berdiskusi setiap hari mulai dari sound gamelan gratis dari DAW Sonar, sampai film transformer yang saya agak tidak paham atau menduga-duga apa sebenarnya Cupu Manik Astagina dalam cerita Ayu Utami . Kumpul di warong kopi dan mengobrolkan ateisme, Ainun Najib, sampai Blues Merbabu atau folklore Hongaria. Baru berhenti kala pagi, kala ayam terbagun, atau speaker masjid mulai "kresek..kresek.. tes...tes..", sebelum Adzan berkumandang.

Namun, begitulah hidup. Kita mungkin akan hanya senantiasa didekatkan dengan orang-orang yang sering berdebat dengan kita. Berseteru tentang apa beda Sastra Pop dan Populer? Berdebat tentang tradisi dan modernitas. Berbantahan tentang tanggal berapa hari ini. Begitulah sedikit banyak kreativitas terasah, ide-ide mulai muncul, menjadikan siapa kita. Bisa apa kita. Seberapa kita. Dan...apakah kita berguna di hidup ini, atau malah menambah luka orang-orang? Terkadang kita merasa ingin menjadi vegetarian, hidup sederhana, memakan hasil tangan kita sendiri. Sebentar kemudian, kita ingin seperti orang-orang yang nampak cerah dalam balutan berbagai merek dagang kelas atas. Namun, secepat kilat kita takut banjir bandang, atau gempa yang teramalkan, sementara kota ini konon belum punya Badan Penanggulangan Bencana yang sangat baik. so....

Kamis, 13 Agustus 2015

untuk Ibu

Assalamualaikum...

Semoga tuhan selalu merahmati kita semua...seperti setiap doa kita semua.

Selamat malam... apa disana kalian sedang bersama-sama? Dalam keluarga kecil, atau terpisah-pisah dan sendiri-sendiri? Ak tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan disana, belum bisa.

Madu air hangat, kali ini kubuat sendiri. Biasanya ibu yang bikinkan, meski di akhir-akhir aku yang selalu bikinkan untuk ibu agar bibir ibu tidak kering. Apa kabar ibu? Apa disana sudah bersama bapak dan adik-adikku? Kadang aku kebingungan disini, kadang terlalu rindu padamu.
Banyak perbicangan denganmu yang kutitipkan pada tuhan, pada malaikat yang selalu kutemui setiap hari. Bagaimana perasaanmu? Semoga selalu ditempat yang bahagiadimanapun berada. Tidak banyak yang bisa kita bicarakan di masalalu, tidak seperti bapak yang rajin mengajak diskusi, berdebat dan bicara. Kita hanya menghabiskan waktu dengan tawa, atau mencicipi makanan-makanan, bicara tentang tts yang selalu menghabiskan waktu.

Aku sangat rindu...rindu sekali. Seketika kau melihatku sakit kau pasti khawatir. Ak rindu dikhawatirkan seperti itu. Aku ingat bagaimana waktu kecil ketika aku kedinginan karena demam, kau selalu menyentuhkan telingaku dengan bibirmu dan aku merasa lbh tenang. Aku rindu memegang tangan saat aku merasa kurang enak badan, aku rindu dibalur minyak hangat, teh hangat dan merasa aman. Ibu, aku rindu kau peluk dengan sangat erat seperti ketika aku pulang dari bandung dan sakit maag. Aku rindu selimut yang kau tutupkan pada badanku, untuk menjagaiku agar tidak kedinginan.

Ibu, apakah kau masih kepikiran aku? Apa kau khawatir aku sendirian? Aku pasti baik-baik saja. Aku sudah aman, tidak ada yang perlu kau risaukan lagi. Apakah ibu tidak ingin membuatkanku wedang hangat, memberikan minyak hangat di tubuhku sekalipun itu datang di mimpi. Mungkin kita hanya menduga duga keberadaan kita satu sama lain. Yang pasti ak ingin kau, bapak dan adik-adik bahagia disana, mungkin di kehidupan yang lebih kekal. Percayalah, selama manusia masih hidup didunia mereka pasti punya ambisi duniawi, mencari kebahagiaannya, begitu juga dengan aku. Jangan khawatir aku tidak bahagia ketika aku sedang bersedih, aku akan mencari kebahagiaan juga...

Ibu, jika kau bertemu dan bersama bapak dan saudara kandungku lainnya sampaikan salamku untuk mereka. Masa dimana aku berada di tempat kalian semua pasti akan datang, entah kapan...tidak ada dr kita yang tahu. Semoga kita semua bahagia...

Ibu, aku sakit flu, kemarin aku sakit kepala. Sakit yang sering melemahkanku, aktivitas-aktivitasku. Tapi sekali lagi jangan khawatir, aku sudah jarang sakit sekarang, aku lebih sehat, badanku lebih besar, makanku lbh banyak dan semoga lebih sehat. Aku sudah bisa mengatasi diriku sendiri sekarang, pergi sebentr ke apotek, membuat air madu hangat, membeli makanan di warung lalu tidur dengan selimut yang pernah kau berikan buatku.

Ibu, apa disana kau masih berdoa setiap waktu? Atau bagaimana di sana? Kadang aku sangat ketakutan disini membayangkanmu yang ada di sana.. tp aku yakin tuhan pasti baik. Sebaik perlakuanmu padaku... Tuhan sedang melihatku menulis surat ini, kukirimkan pada blog agar lebih banyak yang melihat mungkin satu dari mhlukNya bisa menyampaikan padamu. Tapi kutitipkan surat ini lewat Tuhan...semoga surat ini tersampai dan membahagiakan. Kalau surat ini tersampai mungkin tidak ada reportnya.

Terimakasih ibu, yang selalu memberiku banyak pengertian. Mengajarkan aku untuk mengalah, sekaligus mengajarkanku untuk kuat dan tangguh. Mengajarkan aku untuk melindungi banyak hal. Terimakasih telah sebegitu memanusiakan aku, menghargai privasi-privasiku,pilihan-pilihanku, selalu support pada langkahku meski orang bilang itu tidak masuk akal. Dan sekarang, aku sudah disini...mungkin titik ini tidak akan terjadi kalau ibu tidak legawa atas pilihan keinginanku. Bapak yang selalu menjadi penengah ketika aku dan ibu berseteru krn tidak saling paham satu sama lain. Semoga semua bahagia dimanapun kita berada, selalu dalam berkah Allah.swt. Amin


Selamat malam ibu dan bapak... 
Wassalamualaikum.

Kamis, 13 Juni 2013

APA KABAR


Ada yang selalu kutanyakan “apa kabar”. 
Biasanya sore begini, senja berangkat naik, beberapa kali aku bersamamu. Menunggui adzan sambil berdiskusi di depan segelas teh panas. Lalu meneguknya bersama-sama setelah sehari kita lewatkan puasa. Seminggu dua kali, senin dan kamis. Sore tadi aku melakukannya tanpa diskusi, tanpa saling mengucapkan selamat berbuka. Kutanya dalam hati seketika aku meneguk satu dua teguk, “apa kabarmu”. Tidak akan pernah aku dengar cerita lagi. Tidak ada cerita tambahan tentang dirimu, yang ada hanya pengulangan-pengulangan certa setiap hari, setiap waktu. 

Hanya bisa kutitipkan salam kerinduanku lewat satu-satunya penguasa jagat raya ini, Tuhan. kepadaNya kutitipkan salam dan cerita-cerita ku setiap hari, ak berharap itu membahagiakanmu. Tidak akan kuminta waktu terulang, biar terus menggelinding terus dan terus sampai kita semua menuju rumah baru, di dekatNya, sepertimu. 

Masih sempat kubayangkan dulu, saat kau masih ada bahwa aku harus selalu memberi kabar untukmu lewat telepon, bukan Cuma lewat sms. Aku akan merasa kehilangan, jika suatu saat pendengaranmu tidak lagi mampu berkomunikasi dan aku hanya bisa mengabarimu lewat sms. Aku masih membayangkan bersamamu sampai hari tuamu. Hanya sebuah pagi dan setengah siang aku bersamamu dan sebelumnya aku selalu merasa sibuk, tidak punya waktu. Aku tidak mengandai-andai kembalinya waktu. Aku tahu bahwa semua tahu, aku telah dipenuhi banyak penyesalan. Bukan karena aku belum bisa membahagiakan atau menjadi siapa tapi selalu tentang waktu.

Waktu yang seringkali membuat kita menyesal, selalu tentang waktu. Hanya berselisih 1jam tiba-tiba kita sudah berada di lain kota, hanya melalui hitungan detik suara kita sudah terdengar dari benua yang berbeda, hanya berselisih 5 menit kita berada dalam dunia yang berbeda, hanya dalam sekian detik raga kita ditinggalkan ruh. Waktu telah menerorku dalam banyak penyesalan tanpa berani kusampaikan. Aku seperti kehilangan banyak, jutaan, milyaran kemungkinan hanya karena hilangnya seseorang. Lebih dari cinta yang tersampaikan untuk hidupku. Lebih dari sebuah jalan dan tata cara menuju Tuhan yang dia ajarkan. Lebih dari kebiasaan yang selalu kulihat dan menjadi bagianku. Lebih dari cara berpikir yang kau tunjukan dari diskusi kita, lebih dari simbol cinta mu yang sampai sekarang menjadi bagian dari hidupku. 

Sedang apa kau disana? Apakah kau masih berpuasa seperti kami di sini? Apa kabarmu? Sebentar lagi puasa ramadhan datang. Setiap lebaran, kau selalu menyuruhku sungkem pada ibu terlebih dahulu. Entah akan bagaimana kami melewati puasa ramadhan kali ini. Ramadhan adalah tentang engkau, itu biasanya. Entah bagaimana caraku meminta maaf padamu karena masih banyak maaf yang kubutuhkan darimu. 

Dibalik kesedihan ini, Tuhan ternyata telah memberiku anugrah luar biasa besar. 28 tahun kurang lebih aku diberi seseorang yang tidak sedikitpun pernah melepaskan tanggung jawab, tidak pernah hilang kesabaran dan selalu memberikanku kesadaran. Terimakasih sudah mengajarkanku cara bertutur, bersiul, menyanyi…dan lebih, lebih serta lebih lagi. Akan selalu ada cara untuk mengekspresikan cinta, itu yang membuatku berhenti mempertajam penyesalan. 40 hari sudah berlalu, mungkin air mataku tidak pernah kering tapi aku sudah muali mengerti sekarang bagaimana cara mengekspresikan cinta dan kerinduan. Terimakasihku selalu lebih besar dr cintaku…semoga tersampaikan padamu melalui malaikat-malaikat penyampai kabar.

Kamis, 25 April 2013

Surat Untuk Pelangi...


5-4-2013//
Selamat Siang…Pelanginya dunia yang diijinkan tuhan untuk kupinjam keindahannya sebagai bagian hidupku, itulah kamu. Seperti hari yang kemaren, kamu masih menjadi taman untukku, tanpa hujan lebat dan panas menyengat, tanpa angin kencang atau hewan-hewan liar yang berbahaya. Aku selalu diam-diam mendatanginya, menaruh punggung diatas rumput-rumput empuk serasa permadani sampai aku tertidur dan tinggal disana tanpa disadari siapapun. Begitu juga taman itu sendiri, pun tidak menyadari keberadaanku tapi akan selalu merasa kehilangan setiap aku pergi. Siapa yang akan dapat menyimpan rahasia seumur hidupnya? Apalagi sebuah tempat paling istimewa dengan cerita-cerita istimewa. Entah kapan orang lain akan menemukannya. Menemukan tempat yang sedang aku tinggali sekarang dan mengusirku dari sana, kecuali aku cepat-cepat membuatnya jadi sebuah dongeng. Jika sebelum aku terusir aku telah menjadikannya dongeng, kita akan kekal. Aku tidak akan pernah mati dalam sebuah dongeng, dengan cerita yang tidak akan terubah dan taman pun tidak pernah diketemukan oleh siapapun. Tapi sayang, itu hanya akan jadi cerita tentang sebuah taman. Aku merasa nyaman dan memiliki tempat bernaung dengan hatiku yang tenteram tapi aku tidak pernah tau bagaimana cara mengajak bicara pada sebuah taman. Membiarkan diriku sendiri membaca cara, menebak-nebak makna, membiarkan diriku sendiri terlarut dalam keindahannya tanpa bisa membawanya pulang. Memindahkan taman yang kutemukan ke dalam kamarku, itu bukan hal mudah meskipun bukan hal yang tidak mungkin pula. 

Mencapai cinta tentang mu adalah bagian tersulit yang belum pernah kualami sebelumnya. Cinta menjadi kata-kata lama dengan definisi baru, sejak aku mengenalmu. Seperti aku menunggu pelangi setiap hari, sampai-sampai aku menganalisa cuaca pun tidak membuatnya selalu datang. Hari ini kutunggu, besok kutunggu, besoknya kutunggu tapi belum tentu 365hari kemudian juga datang. Apalagi jika kamu datang, gedung-gedung itu mendominasi untuk melihatmu lebih dulu. Aku hanya kebagian melihatmu sebagian. Kuusahakan untuk mencari tempat-tempat tinggi, berlari ke gunung pun hari sudah akan beranjak malam dan kamu harus pergi. Aku yang kecil diantara dominasi gedung-gedung tinggi dan mereka-mereka yang menempati gedung-gedung megah itu haruskah aku menjadi mereka? Tidak lagi menjadi diriku sendiri. Beberapa kali aku mencoba cara itu tapi aku tidak berhasil, karena kedatanganmu semaunya. Yah begitulah, hari gini alam saja moody. Gempa ya moody, banjir ya moody, hujan ya moody…untung matahari tidak moody bisa-bisa kita melihatnya seminggu sekali, klo si matahari sedang patah hati. Apakah mungkin akan sampai pada masa dimana pelangi mencari ku? Mungkin jika pelanginya lagi mood. Cinta kali ini membuatku harus menjelma pada bentuk-bentuk baru, dan kusetujui sendiri.

Mengenalmu membuatku mendefinisikan cinta seperti Istana Inggris. Mudah dilihat di televise, dari ujung jalanan dimana bangunan itu didirikan namun siapa yang bisa masuk? AKu bisa memahami di dalamnya dari tetektif-detektif yang masuk, dari berita-berita di Koran-koran tertentu, dari penelitian-penelitian yang sulit kulakukan sendiri. Memahami dalamnya, menikmati keindahannya di dalam, mengerti benar suasana di dalamnya harus menjelma jadi udara kelas satu. Udara terpilih yang keluar dari AC AC mewah dalam gedung itu. Jangankan aku, udara di luar istana pun di larang masuk. Begitulah cinta. Indah dan angkuh. Kokoh dan tertutup. Pintu pagar berlapis dan penuh jebakan, alarm-alarm yang memanggil sniper-sniper terbaik di dunia ini. Jika aku nekat melempar bom, pun aku akan sampai ke bagian dalam gedung sebuah bangunan rusak. Menikmati dari jarak jauh itu menyakitkan, dan aku memasukinya dengan cara berbahaya sudah pasti aku tidak akan keluar dengan selamat kecuali aku keluarga Pangeran William.

Mengenal seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya, menjadikanya sebagai alasan beberapa hal. Termasuk menjadikan alasan untuk jatuh cinta, lebih dalam setiap harinya. Aku banyak belajar tentang hidup, tentang cinta, tentang memperjuangkan sesuatu, tentang kesabaran dan terakhir tentang keikhlasan. Kesabaran mata pelajaran seumur hidup dan ujiannya setiap saat. Hidup membuatku mengenal cinta. Cinta membuatku mengenalmu. Mengenalmu membuatku mengerti pentingnya memperjuangkan sesuatu dalam hidup. Dengan kesediaan atau pun tidak, semua rasa itu datang dalam tahap tahap. Cinta juga datang padaku dengan sendirinya, bukan karena aku adalah keturunan bangsawan tapi karena aku menjadi diriku sendiri. Aku tetap menikmati pelangi yang datang dan pergi semaunya, datang dan pergi untuk mengantar dan menjemput keturunan-keturunan kayangan atau anak manusia yang diijinkan melihat-lihat kayangan. Pelangi itu media ku untuk menghormati pencipta, pelangi adalah jalan ku untuk melihat kayangan, atau mungkin aku adalah keturunan kayangan yang jatuh cinta pada perjalananku sendiri menuju bumi? Jatuh cinta pada media yang menghantarku? jatuh cinta pada pelangi…? Iya, aku bukan saja jatuh cinta padamu tapi sekaligus patah hati karena kemunculanmu semaunya. 

Kemunculanmu yang semaunya membuat perjalananku sering tersendat. Aku jatuh cinta pada hidupmu dan jatuh cinta pada perjalananku ketika bersamamu…iya tentu aku jatuh cinta pada hidupku sendiri. Aku tidak bosan untuk mencoba merebut kembali hatimu dengan cara-cara yang membuatku menikmati hidup ini. Aku merebut hatimu dengan perjalanan ku, aku merebut hatimu dengan ketangguhanku, aku merebut hatimu dengan karya-karya ku, aku merebut hatimu dengan warna warna hidupku yang akan selalu memikatmu. Kubiarkan kamu bergerak semaunya, kubiarkan kamu tidak selalu ku genggam, biar aku selalu selalu melakukan hal-hal terhebat selamanya untuk memikatmu, biar hidup ini terus berwarna,…seindah warnamu…pelangi.

Tentunya aku akan sangat patah hati jika tidak melihatnya lagi. Berumur panjanglah…karena dunia masih ingin selalu melihatmu, melihat warnamu, warna perjalananku. Selamat Sore pelangi…dan aku melihatmu sore ini meskipun beradu keindahan dengan warna lain yang aku tidak tahu namanya tapi kamu tetap mempesona sepenuhnya untukku.

MENGELOLA, MEMANAGE PINJAMAN: tentang hidup




Tuhan menciptakan keberagaman apa saja, apa saja sudah ada sebelum kita dilahirkan. Meminjam istilah Jawa (Gumelar dan Gemulung), bumi ini digelar sepenuhnya dan bumi ini juga tergulung dalam raga kita. Tergelar adalah alam seisinya termasuk segala sistem kehidupan ini dan tergulung adalah tubuh kita lengkap dengan sistem-sistem organ kita.  Pernahkah kita mencoba mengeja kembali, apa yang bisa kita ciptakan? Kita hanya mencipta hal baru dari apa-apa yang sudah ada. Kita memanage, menempatkan berbagai hal dengan proporsi tertentu lalu jadilah hal baru. Kita tidak pernah menciptakan warna namun kita bisa melukis, kita tidak pernah menciptakan pohon namun kita dapat memproduksi kertas-kertas pada buku. Kita tidak membuat barang-barang tambang namun kita dapat membuat berbagai jenis perhiasan. 

Kepemilikan manusia tidak pernah bersifat abadi. Anak, pasangan hidup, harta, kawan, tetangga, cinta, kisah, cerita, kesuksesan…semua hanya dipinjamkan. Dipinjamkan untuk kita manage sebaik-baiknya. Mereka semua yang dipinjamkan pada kita suatu saat akan dipindahkan, dilenyapkan atau entah dikemanakan. Mungkin diberikan tempat bagi mereka, tempat-tempat baru yang lebih indah, lebih tepat dan lebih baik. Kita, akan diberikan pengganti-pengganti yang baru mungkin yang lebih atau mungkin yang membuat lebih menyadari tentang sesuatu atau bisa juga untuk kita jadikan yang baru itu lebih baik. Selama kita diberi kepemilikan, kita akan diberi tanggung jawab untuk memanagenya, dan kita akan melihat selanjutnya siapa diri kita setelah semuanya itu tiada. 

Ketika sesuatu sudah dia jauhkan, dipindahkan atau dilenyapkan dari kehidupan kita, mari kita lihat kembali pada diri kita sebelum sesuatu itu ada dan setelah sesuatu itu ada. Jika banyak hal kita anggap lebih baik berarti usaha kita memanage kepemilikan sudah berhasil jika belum terlalu banyak perubahan positif berarti kita kurang maksimal. Kadang rasa kecewa lebih besar dari penyadaran atas perubahan-perubahan, hal itu sangat wajar. Seseorang berpikir seperti ini “dulu sebelum ada dia aku bisa hidup seperti biasa, lalu sekerang setelah tidak ada dia semuanya juga tetap bisa sama”., namun keadaan ini hampir tidak mungkin. Karena setiap kedatangan sesuatu, pasti membawa pengaruh bahkan perubahan, jika semua harus kembali persis seperti sebelumnya tentu sangat sulit. Tanpa kita sadari ada hal-hal yang perubahanya kadang lebih permanen dari sesuatu itu sendiri.

Mengikhlaskan lepasnya sesuatu yang pernah kita miliki memang sangat berat. Setiap hal pasti memiliki peran atas hidup kita. Di bagian ini kita harus memahami bahwa sesuatu datang untuk sebuah perubahan-perubahan yang berarti, pengertian-pengertian baru yang berarti. Sampai waktu pun dipinjamkan pada kita, namun pinjaman-pinjaman itu selalu membuat kita merasa khawatir. Anak-anak lahir lalu sepasang orang tua takut kehilangan anaknya. Setelah anak-nya pergi berumah tangga, orang tua berdua dengan pasangannya. Mereka menjadi takut kehilangan satu sama lain. Lalu setelah salah satu dari mereka meninggal, yang satu akan merasa takut mati. Begitulah hidup bergulir sepertinya. Betapa baiknya Tuhan, meminjamkan seluruhnya. Bahkan raga kita pun sebuah barang yang dipinjamkan. Kita hanya roh, nyawa. Raga pun akan menjadi bagian dari tanah. Dan nyawa atau roh akan berada di sampingNya. Jika waktu yang diambil, kita tidak bisa memaksakan, hanya bisa mengusahakan semampunya. Jika sudah habis masa nya, semua harus diikhlaskan, dengan paksa atau benar-benar ikhlas. Hal ini juga berlaku bagi apa saja yang dititipkan pada kita, termasuk waktu sebuah cerita, cinta, pasangan hidup, masa-masa indah… Apapun yang dipinjamkan Tuhan akan diambil, juga termsuk kepedihan hidup, bencana, rasa sakit, semua tidak pernah abadi. Menurutku ada hal-hal yang berhak kita miliki yaitu kenangan, pelajaran dan rahasia.

Minggu, 21 April 2013

Pada Suatu Ketika

Pada suatu ketika....
Hari yang dulu luar biasa menjadi sangat biasa. Lagu-lagu lama yang dulu pernah syahdu, menjadi hanya selingan tanpa kesan. Cinta yang sepenuh hati tidak ditinggalkan namun hanya tinggal berapa persenya. Sapaan-sapaan pagi hari yang dinanti-nanti menjadi sebuah formalitas.ketika menyapa menjadi satu semangat, lalu sudah tidak lagi ada.

Pada suatu ketika...
Hidup belum berakhir nafas masih dalam namun segalanya berubah. Idealis akan jadi pragmatis, yang luas akan menyempit, yang penting menjadi biasa. Yang hilang dicari kembali, yang dikejar ditinggalkan

Pada suatu ketika....
Mengingat seseorang di yang hari ini kita cinta bisa jadi sangat membahayakan. Berteman dengan seorang yang pernah berarti bisa jadi harus terlupakan. Tulisan-tulisan yang menandai rasa di layar-layar hape akan bersih. Puisi-puisi yang terserak di lipatan-lipatan kertas surat akan terbakar. Blog blog dan berbagai jejaring sosial akan ditutup begitu saja. Roman-roman cinta dan cerpen akan terbuang, harus hilang hanya akan menjadi belang. Essay essay yang terdiskusikan, terbuat seketika itu menjadi bahaya

Pada suatu ketika...
pada suatu ketika... lalu pada suatu ketika lagi...
Kesemuanya akan berubah, hubungan tidak pernah permanen, rasa juga begitu, isi kepala apalagi. Perubahan...bukan berarti harus menghilangkan. Perubahan terlihat tanpa menghilangkan. Saat pada suatu ketika itu datang, menghilangkan akan membuat kita semakin belang

Pada suatu ketika...
Kejujuran hanya terdengar dalam hati sendiri, bahkan telinga tidak mampu. Kejujuran tentang masa lalu yang indah, yang sudah hilang, terbuang. Seperti senja yang selalu datang lagi dan datang lagi indahnya... Keindahan cerita lalu dan aku akan selalu datang lagi, datang lagi dan datang lagi meski hanya hati sendiri yang mendengar hingga menembus batas rasional.

Sabtu, 20 April 2013

MASA MUDA DAN PILIHAN HIDUP


MASA MUDA DAN PILIHAN HIDUP


Minggu pagi yang ingin kubunuh karena aku enggan melalui hari dengan pagi yang murung. Aku terlalu gelisah hari ini karena cinta, karenanya sepertinya aku tampak sangat bodoh. Pagi yang kunikmati dengan duduk di tepi jalan, melihat-lihat orang, mencuri-curi pandang dengan pedagang lalu biasanya aku akan ditawari dagangannya jika kami bertemu mata. Aku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, agar waktu berlalu cepat. Sop matahari dan teh hangat, akhirnya aku menyerah pada lapar. Di hadapanku dua orang kakek dengan dua buah sepeda, mereka berhenti lalu makan di meja sebelahku. Keduanya mengobrol tentang si A, si B, anak nomor sekian, pekerjaan anak-anak sampai bicara partai politik. Makan mereka berdua telah terlebih dulu selesai karena aku sengaja menikmati makananku pelan-pelan. Satu kakek bangkit dengan berpegangan pada kursi-kursi dan meja di sebelahnya, lalu kakek lainnya meminta dibantu untuk berdiri. Salah seorang kakek mengeluarkan dompet. Dompetnya berisi banyak sekali uang lima puluh ribuan dan segepok kartu nama. Satu lembar lima puluh ribuan diambil lalu dibayarkan dan menerima kembalian Satu sepeda diambil oleh mereka berdua, saling membantu lalu satu sepeda lainnya dikeluarkan pedagang sop matahari. Melihat mereka membuatku semakin berkaca-kaca dan sedikit takut menghadapi hari tua. Mempertanyakan kembali tentang hari ini.

MEMILIH PERNAH ADA ATAU TIDAK ADA SAMA SEKALI
Setiap hari berlalu begitu saja, kesedihan kita turuti sebagai bagian alur yang mungkin terus-menerus menguasai kita seumur hidup atau sebaliknya. Kesenangan dikejar habis-habisan sampai apa saja menjadi cara yang lumrah, ketika kebanyakan orang menganggapnya lumrah. Melihat dua kakek itu rasanya seperti merasakan bahwa aku akan seperti keduanya seuatu hari nanti. Yang renta, yang akan terus- terusan minta tolong pada lainnya, yang masa mudanya yang jaya tidak lagi diingat oleh orang-orang disekitarnya. Terbesit sebentar di kepala ku, “lantas kenapa kita harus begini begitu toh apa pun akan musnah dan selesai. Lantas kenapa harus jadi sesuatu jika akhirnya renta dan hilang?”. Yah segera aku berpikir lagi, menegur diriku sendiri “setidak-tidaknya ada yang pernah terbangun,ada yang pernah terdokumentasi, ada yang pernah bermanfaat, ada yang pernah popular, ada yang pernah mengubah dunia…ada yang pernah bla bla bla…”. Sepertinya aku memilih option ke dua dari dua option yang muncul di kepalaku. Tanpa kita sadari ada beberapa hal berubah setelah seseorang memasuki kehidupan kita, meskipun sebentar. Ada hal yang berubah karena kita pernah ada di suatu tempat. Kita yang mungkin terasa kecil, selalu bisa membawa pengaruh, pergeseran atau perubahan atas sesuatu. Kita yang merasa kuat dan hebat juga bisa jadi berubah pikiran karena hal-hal kecil dan sederhana yang kita lihat. Hidup hanya satu kali dan terbatas oleh waktu, kenapa tidak kita menjadi sesuatu?. 

Memilih tetap tidak menjadi apa-apa karena toh pada akhirnya kita akan renta dan hilang, menurutku adalah pikiran orang-orang yang tidak menghargai proses. Orang-orang instant yang bagi mereka hanya melihat akhirnya saja, bahwa semua akan tidak ada. Benar, tidak seorangpun menyangkal bahwa hidup itu tidak kekal namun jika kita hanya menganggap bahwa, apabila hari ini sesuatu itu tidak ada berarti dia tidak pernah ada. Anggapan itu adalah anggapan orang-orang yang hanya mengakui hasil, tanpa dia sadari bahwa ada proses yang sudah pernah berjalan, ada bagian yang berubah, bertambah, terkikis, bergeser. Hidup yang satu kali dan terbatas durasi yang tertentu pula mengapa tidak berani untuk membuat cerita? Ketika kita hilang masih ada yang tersisa. Kenapa tidak mau jadi bangunan besar, ketika runtuh dan terganti bangunan baru, masih tersisa foto-foto dokumentasinya. Untuk menjadi sesuatu yang elok tidak ada yang dicapai tanpa usaha keras dan memaksimalkan diri, terus memahami diri, menguasai diri supaya tidak ada cara-cara salah dalam upaya menjadi sesuatu yang elok. Begitu banyak niat-niat baik yang dilakukan dengan cara yang tidak searah dengan kebaikan itu. Perlombaan mencukupi kebutuhan hidup, perlombaan memenuhi juga kebutuhan hidup orang lain, perlombaan kewibawaan, perlombaan alim-aliman, perlombaan pintar-pintaran, kaya kayaan, baik-baikan sampai perlombaan masuk surga pun diwarnai sikut-sikutan karena ketidak pedulian memahami diri sendiri apalagi orang lain. Di sini sekarang, ketika banyak orang berebut kekuasaan dan uang masih ada orang-orang tertentu yang mau mengalah dan hidup biasa-biasa saja. Namun ketika surga dan neraka di gelar di sini dan semua orang berebut surga, kira-kira ada atau tidak orang yang akan mengalah untuk menempati neraka saja? Saya pun tidak akan mau. Tuhan memiliki cara pandang sendiri yang lebih bijak dan adil dari pada pandangan manusia. Akhir-akhir ini bahkan cara pandang Tuhan sering kita pakai untuk membenarkan kesalahan-kesalahan besar, massal dan merugikan banyak orang. Karena Tuhan maha memaklumi semua orang bicara bagi-bagi hasil korupsi sebagai bonus padahal jutaan orang tidak mendapat hak nya. Membayar sejumlah uang tertentu agar dapat bekerja di suatu tempat juga dianggap wajar, padahal ada kompetensi-kompetensi hebat yang tidak punya pekerjaan karena bagiannya sudah dibeli. Sepertinya nasib bisa ditebus dengan uang. Yang muda sudah selalu menginginkan yang mudah, karena peraturan dari generasi sebelumnya yang telah menitipkan cerahnya masa depan di pundak kita, membuat beberapa orang tidak mau memilih untuk menjadi diri sendiri padahal dia sudah sekolah tinggi.

MERDEKA DAN MENJADI DIRI SENDIRI
Kita terlalu terbiasa dengan menyamaratakan tujuan hidup atau makna kebahagiaan, melumrahkan yang massal, menyingkirkan yang sedikit, menganggap salah yang berbeda, meremehkan usaha yang belum berhasil dan mengahakimi perspektif yang lain. Manusia terlalu senang dalam istilah pasrah sebelum melakukan apa-apa, yang sama artinya dengan menyerah sebelum kalah. Pasrah itu di belakang, setelah segala hal diupayakan maksimal. Menerima nasib buruk bukan menghadapi hidup. Kita terlalu banyak melibatkan Tuhan untuk menyelesaikan berbagai urusan-urusan kecil yang kita tau bisa kita selesaikan. Kadang kita hanya butuh ijin Tuhan karena segala bekal, talenta, ilmu, keberanian sudah diberikan pada kita bahkan termasuk jaminan keselamatan. Berdoa bukan berarti menyerahkan semuanya untuk diselesaikan oleh Tuhan, meskipun kepasrahan harus ada dalam jiwa kita karena ada bagian yang diluar kemampuan kita dan harus Tuhan yang mnyelesaikanya. 

Beberapa persoalan, termasuk sudut pandang yang seragam, mentalitas para pelaku-pelaku perlombaan pencitraan yang selalu ingin nampak menang di mata manusia, terkadang membuat kita ragu-ragu dan kesulitan untuk menjadi diri sendiri. Kesulitan untuk membebaskan diri untuk memiliki sudut pandang sendiri. Ingin merdeka, maka kita sekolah. Ingin menjadi diri sendiri maka kita sekolah. Merdeka dari kebodohan, kemiskinan, ketertindasan, termasuk pemerkosaan hak dan sudut pandang. Lantas sekolah mengajarkan kita untuk kembali seragam dalam berpikir, sama dengan pak guru, sama dengan bu dosen. Menjadi pintar, bukan selalu untuk menjadikan kita jadi presiden, menjadikan kita orang terkaya, menjadikan kita orang teralim, menjadikan kita orang paling berwibawa tapi dapat menjadikan kita menjadi diri sendiri. Menjadi diri yang membuat kita bahagia meskipun seorang perancang taman, pemain musik, penulis berita. Dengan kompetensi, kemampuan yang kita punya kita akan melakukan apa yang membuat kita bahagia dengan sepenuh hati, dengan kemampuan yang tinggi, dengan tanpa harus cari muka atau menjadi orang lain. Memulai menjadi diri sendiri, menjadi bangunan yang terbaik. Ketika saatnya harus rapuh, ketika harus renta dan roboh…biarlah datang saatnya. Jika bangunan sudah roboh sebelum berdiri kokoh, pasrah saja, karena fondasinya masih kuat biarkan berdiri bangunan lain yang berdiri diatasnya. Lebih baik melakukan sesuatu dari pada tidak pernah sama sekali. Lebih baik berbekas dari pada tidak pernah berani menapak. Muda adalah masa yang hebat, Muda menjadi sangat biasa memberikan cinta hanya pada satu orang, Muda harus peka pada dunia yang masih kekurangan cinta, Muda harus tahu tentang anak-anak yang sudah hidup tanpa cinta, Muda membagi satu cinta untuk dunia salah satunya untukmu... Kapan muda berakhir? Itu pilihan kita kapan kita mengakhiri semangat kecuali jika Tuhan sudah meminta kita kembali.