Check out music from Dy Murwaningrum

https://soundcloud.com/dy-murwaningrum

Foto saya
Solo- Jogja- Bandung, Indonesia
mencari kata-kata, membenturkannya pada setiap bidang dan terus memantul...

Sabtu, 03 Juni 2017

Rindu pada Kerinduan

Selamat Malam…suara-suara yang memenuhi telingaku dalam sunyi tanpa getaran. Rongga hati yang kosong selalu menyediakan tempat untuk menampung kerinduan siapa saja yang kehausan dan kelelahan dalam ciptaannya sendiri. Rindu yang lalu menarik garis-garis masa lalu dihari ini, seperti garis-garis debu pada cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela. Rindu adalah potongan waktu yang sengaja disimpan untuk disajikan di masa depan. Rindu adalah gumpalan ruang yang sengaja dijadikan hiasan-hiasan pada ruang kamar tidur kesendirian manusia. Rindu adalah daya besar yang seketika datang diwaktu yang kadang tidak tepat lagi, seperti dibawa mesin waktu tanpa melalui lorong.

Daya rindu adalah daya tanpa batas, melesat diudara berputar hampa dan tak punya landasan untuk turun, membumi. Kepingan-kepingannya(rindu), seringkali acak, rupa mozaik namun kadang tertata rapi rupa buku-buku dalam rak. Potongan rindu tidak jarang menjadi tumpukan kesedihan. Bertumpuk dan kadang berjajar. Kau memilih menyusunnya seperti apa, setumpuk kesedihan atau sederet kegelisahan?  Seperti menumpuk kartu remi atau menjajar buku. Rindu sering terbaca selintas lewat, dan kita bisa memilih rindu mana yang akan kita buka dan perdalam.
Pernah terpikirkah bahwa yang telah tiada merindukan yang ada? Yang pergi merindukan yang tinggal? Yang menghilang merindukan yang menanti? Tapi entah tentang yang mati merindukan yang hidup…

Yang hidup merindukan yang mati, namun kehidupan berjalan dan berlari memaksa kita mengikutinya. Kita sering terbuai padanya, lupa segalanya.
Kerinduan memiliki daya kuat untuk kita meninggalkan hari ini menuju masa lalu di hari ini. Rindu membawa yang pergi ingin kembali dan meninggalkan sejenak harinya meski lalu kembali lagi. Membawa yang menghilang menemui yang menanti meski sebentar akan berlalu lagi, namun tidak akan membawa yang mati menemui yang hidup meski hanya sebentar dan kemudian kembali pergi…

Rindu tidak pernah kekal… Bicara rindu adalah bicara kesmentaraan.


Selamat Ramadhan, menjelang Lebaran. Selamat menemui kerinduan… J

Rabu, 28 Oktober 2015

INDONESIA DAN SPORTIFITAS

Indonesia dan Sportifitas

Indonesia. Masih pengalaman di sebuah negeri itu saja yang saya pernah tahu. Saya belum pernah menjalani hari-hari panjang dan berbagai pengalaman di negeri yang lain. Pengalaman terkadang membawa rasa geram, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa iba dan bahkan rasa bahagia. Berpindah dari kota saya lahir menuju ke kota dimana saya harus menuntut ilmu. Lalu berpindah lagi ke kota dimana saya belajar tentang berbagai pengetahuan. Lalu berpindah lagi ke kota dimana saya mulai bekerja. Kanak menuju dewasa saya menikmati hari hari di negeri ini. Negeri yang memberi saya tanah untuk tinggal dan makan serta air untuk minum, tumbuh dan membersihkan diri. Berbagai peristiwa membuat saya bahagia, senang namun acapkali membuat saya khawatir dan sesekali membenci yang lain namun terpendam.
Indonesia. Dengan banyak kotak di dalamnya. Antar kotak sesekali beririsan, dan sesekali saling berbenturan. Mungkin begitulah wajarnya hidup dimanapun juga, mungkin. Mengingat kembali waktu saya kecil, pada saat pesta rakyat demokrasi. Saya masih duduk di sekolah dasar, pergi bersama ayah saya untuk menjemput ibu. Kerumunan rakyat yang mengatasnamakan pesta demokrasi memenuhi jalan. Mungkin, semuanya legal semua sudah wajar. Bagi saya saat itu yang masih SD mungkin juga wajar kalau saya merasa cemas begitu juga teman saya yang lain. Kami tidak diijinkan bermain saat itu. Tidak diijinkan keluar jauh dari rumah. Bersepeda di bagian pinggir jalan, karena suara motor bising, pengang di telinga, berbagai orang dengan berbagai gaya di jalanan sedang mengekspresikan kebebasannya. Memblokade jalan, membunyikan klakson dengan berlebihan, suara knalpot yang disetting untuk memenuhi kepala kita dengan suara bising. Saya belum bisa menulis waktu itu dan saya tidak tahu bahwa hal tersebut dinamakan kebebasan. Dinamakan pesta demokrasi. Dinamakan hak setiap orang yang wajib kita hargai. Saya hanya memahaminya sebagai sesuatu yang harus ditakuti, karena selalu ada korban dan saya mengenal sebagian dari mereka yang berpesta.
Indonesia. Negeri yang penuh kebersamaan, sangat membahagiakan tapi kadang juga mengesalkan. Masyarakat yang hidup bersama, saling mengenal akrab. Saya ingat juga waktu itu sekitar tempat kerja paman saya. Sangat dekat jarak antar rumah. Sangat akrab dengan para tetangga yang pekerjaannya beragam. Ada polisi, satpol pp, ada pns, ada tukang sampah, ada guru, ada juga pegawai rumah sakit. Ada begitu banyak manfaat dan sekaligus rasa sungkan yang harus dipertaruhkan di sana. Ketika salah satu tetangga melanggar aturan lalulintas, mungkin seorang polisi akan kesulitan menolak ketika dimintai tolong untuk mengambil STNK. Menolak menjadi terbeban, membantu juga akan merasa terbeban. Mungkin di masa sekarang, kesadaran masyarakat tentang aturan sudah lebih tinggi dan hal ini mungkin tidak banyak berlaku lagi(mungkin). Berbagai kejadian ironis bahkan saya sering jumpai. Pada musim demo mahasiswa, aparat keamanan dan mahasiswa bereteru dimana keduanya adalah bagian dari masyarakat. Para aparat keamanan itu kembali ke rumah, pulang bersama warga yang lain dimana disitu pula para mahasiswa dan keluaranya tinggal. Mereka sama-sama masyarakat.
Indonesia. Selalu memberikan pengalaman berulang, karena saya masih tinggal di sini. Sisa trauma masa lalu yang tersisa mungkin masih ada. Betapa takutnya saya saat orang-orang memblokade jalan, menyelinap diantara motor yang saya kendarai. Mereka melajukan motornya dengan berbelok belok, tentu ini membahayakan para pengguna jalan yang lain. Setiap pertandingan bola baik di tempat saya dilahirkan, menuntut ilmu ataupun di kota dimana saya bekerja kesemuanya selalu membuat saya takut. Selalu ada saja berita tentang korban jiwa. Sepak bola adalah tanda geliat rakyat. Kemenangannya seperti kemenangan sebuah partai, kemenangan sebuah agama, kemenangan sebuah harga diri suatu bangsa. Lantas, jika gelaran kejuaraan tersebut dipersaingkan antar propinsi, antar kota, antar desa bagaimana jadinya? Bukan permainannya yang salah tapi sikap mental pendukungnya. Sportif bukan hannya kewajiban atlit tapi juga sikap mental yang harus ditanamkan setiap manusia di negeri ini. Sportifitas bukan hanya harus dipelajari para atlit namun juga setiap anak yang akan tumbuh dewasa dan terjun ke masyarakat.
Kita ganti judul. Bukan lagi tentang pesta demokrasi, rasa sungkan pada tetangga dan sepak bola. Judulnya tentang sportifitas. Sportifitas melakukan pekerjaan dengan tanggung jawab yang baik. Sportifitas bermain jujur dalam turnamen. Sportifitas turut menjaga kedamaian, ketentraman umum. Sportifitas untuk menjaga infrastruktur yang telah kita nikmati juga. Sportifitas untuk membuat orang lain merasa tidak khawatir dan tidak bising.

Sering saya bertanya, mengapa ekspresi kegembiraan adalah pengerusakan. Ini sangat ironis. Usaha untuk menuntut keadilan juga dengan pengerusakan. Mengekspresikan kesedihan dan kekecewaan juga dengan pengerusakan. Cukup aneh...ketika kita mendukung sesuatu yang sama, menginginkan sesuatu yang sama namun kita merasa takut pada masyarakat kita sendiri. Kita mendukung partai yang sama (mungkin) tapi kita takut pada pendukung partai yang sama. Kita mendukung tim bola yang sama tapi kita merasa was-was dengan sikap pendukung tim tersebut di jalanan. Kita bertetangga dengan pihak-pihak yang berwenang mengayomi dan melindungi masyarakat namun kita merasa memendam rasa benci pada mereka, karena kejujurannya atau malah karena ketidakjujurannya. Bukankah mereka sama dengan kita? Kita berada di tempat yang sama dan dengan keinginan yang mungkin juga sama. Kadang kita harus tertawa dengan hati yang ketakutan. Kadang kita harus tersenyum dengan dalam perasaan benci yang terpendam. Menjadi terlihat munafik memang, namun ini yang dirasakan banyak orang, jika mereka berani mengakui.


Kamis, 13 Agustus 2015

untuk Ibu

Assalamualaikum...

Semoga tuhan selalu merahmati kita semua...seperti setiap doa kita semua.

Selamat malam... apa disana kalian sedang bersama-sama? Dalam keluarga kecil, atau terpisah-pisah dan sendiri-sendiri? Ak tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan disana, belum bisa.

Madu air hangat, kali ini kubuat sendiri. Biasanya ibu yang bikinkan, meski di akhir-akhir aku yang selalu bikinkan untuk ibu agar bibir ibu tidak kering. Apa kabar ibu? Apa disana sudah bersama bapak dan adik-adikku? Kadang aku kebingungan disini, kadang terlalu rindu padamu.
Banyak perbicangan denganmu yang kutitipkan pada tuhan, pada malaikat yang selalu kutemui setiap hari. Bagaimana perasaanmu? Semoga selalu ditempat yang bahagiadimanapun berada. Tidak banyak yang bisa kita bicarakan di masalalu, tidak seperti bapak yang rajin mengajak diskusi, berdebat dan bicara. Kita hanya menghabiskan waktu dengan tawa, atau mencicipi makanan-makanan, bicara tentang tts yang selalu menghabiskan waktu.

Aku sangat rindu...rindu sekali. Seketika kau melihatku sakit kau pasti khawatir. Ak rindu dikhawatirkan seperti itu. Aku ingat bagaimana waktu kecil ketika aku kedinginan karena demam, kau selalu menyentuhkan telingaku dengan bibirmu dan aku merasa lbh tenang. Aku rindu memegang tangan saat aku merasa kurang enak badan, aku rindu dibalur minyak hangat, teh hangat dan merasa aman. Ibu, aku rindu kau peluk dengan sangat erat seperti ketika aku pulang dari bandung dan sakit maag. Aku rindu selimut yang kau tutupkan pada badanku, untuk menjagaiku agar tidak kedinginan.

Ibu, apakah kau masih kepikiran aku? Apa kau khawatir aku sendirian? Aku pasti baik-baik saja. Aku sudah aman, tidak ada yang perlu kau risaukan lagi. Apakah ibu tidak ingin membuatkanku wedang hangat, memberikan minyak hangat di tubuhku sekalipun itu datang di mimpi. Mungkin kita hanya menduga duga keberadaan kita satu sama lain. Yang pasti ak ingin kau, bapak dan adik-adik bahagia disana, mungkin di kehidupan yang lebih kekal. Percayalah, selama manusia masih hidup didunia mereka pasti punya ambisi duniawi, mencari kebahagiaannya, begitu juga dengan aku. Jangan khawatir aku tidak bahagia ketika aku sedang bersedih, aku akan mencari kebahagiaan juga...

Ibu, jika kau bertemu dan bersama bapak dan saudara kandungku lainnya sampaikan salamku untuk mereka. Masa dimana aku berada di tempat kalian semua pasti akan datang, entah kapan...tidak ada dr kita yang tahu. Semoga kita semua bahagia...

Ibu, aku sakit flu, kemarin aku sakit kepala. Sakit yang sering melemahkanku, aktivitas-aktivitasku. Tapi sekali lagi jangan khawatir, aku sudah jarang sakit sekarang, aku lebih sehat, badanku lebih besar, makanku lbh banyak dan semoga lebih sehat. Aku sudah bisa mengatasi diriku sendiri sekarang, pergi sebentr ke apotek, membuat air madu hangat, membeli makanan di warung lalu tidur dengan selimut yang pernah kau berikan buatku.

Ibu, apa disana kau masih berdoa setiap waktu? Atau bagaimana di sana? Kadang aku sangat ketakutan disini membayangkanmu yang ada di sana.. tp aku yakin tuhan pasti baik. Sebaik perlakuanmu padaku... Tuhan sedang melihatku menulis surat ini, kukirimkan pada blog agar lebih banyak yang melihat mungkin satu dari mhlukNya bisa menyampaikan padamu. Tapi kutitipkan surat ini lewat Tuhan...semoga surat ini tersampai dan membahagiakan. Kalau surat ini tersampai mungkin tidak ada reportnya.

Terimakasih ibu, yang selalu memberiku banyak pengertian. Mengajarkan aku untuk mengalah, sekaligus mengajarkanku untuk kuat dan tangguh. Mengajarkan aku untuk melindungi banyak hal. Terimakasih telah sebegitu memanusiakan aku, menghargai privasi-privasiku,pilihan-pilihanku, selalu support pada langkahku meski orang bilang itu tidak masuk akal. Dan sekarang, aku sudah disini...mungkin titik ini tidak akan terjadi kalau ibu tidak legawa atas pilihan keinginanku. Bapak yang selalu menjadi penengah ketika aku dan ibu berseteru krn tidak saling paham satu sama lain. Semoga semua bahagia dimanapun kita berada, selalu dalam berkah Allah.swt. Amin


Selamat malam ibu dan bapak... 
Wassalamualaikum.

Senin, 07 Juli 2014

HANYA MEDIA SOSIAL YANG PEDULI PIKIRAN KITA



HANYA MEDIA SOSIAL YANG PEDULI PIKIRAN KITA

(perbincangan mentah dengan diri)

Sudah lama rasanya aku tidak mencoba berbincang dengan diri, adakah yang pernah melakukan? Kesenanganku seringkali membuat aku berjauhan dari diri. Kesibukan membuatku mengabaikan apa yang diriku rasakan dan inginkan. Sampai pada titik dimana aku harus tersingkir dari kesenangan dan kesibukanku. Dipaksa sepi untuk kembali menanyai diri. Apa yang aku mau? Apa yang aku butuh? Apa yang aku ingin? Apa yang kuharapkan? Apa mimpiku? Apa yang membuatku khawatir? Lalu seketika aku mulai memetakan pikiranku, kembali membuat mind map seperti yang biasa kulakukan saat aku kebingungan.

Saat aku tidak lagi bisa membedakan mana pikiranku dan bukan. Mana keinginanku dan bukan. Seringkali kekhawatiran memanipulasi semuanya. Berapa bagian dari diriku yang kunyatakan? Hidup ini seperti detik bertemu detik, terus merangkaikan menit lalu jam dan seterusnya. Hitungan tahun, manusia seringkali menjadi beku pada keinginan banyak kepala. Kepatuhan adalah kebanggaan. Mempertuan banyak orang lain menjadi bentuk penghargaan, karena power mereka kita pertegas. Khawatir pada prasangka-prasangka orang-orang yang kita sangkakan sendiri. Khawatir merupakan tempat tertinggi dan menjadi prioritas utama. Kedudukannya mampu memanipulasi diri sendiri. Rasa takut seringkali menjadi biang keladi segala keputusan. Akhirnya menghilangkan kekhawatiran, mengurangi kekhawatiran, menjadi pilihan utama. “aku bahagia hidup denganmu, dalam susah senang, bebas atau khawatir, besar atau terpuruk”, pada kenyataannya khawatir menjadi pilihan pertama yang harus dituntaskan, lalu seketika khawatir hilang disebutlah itu bahagia meskipun –tanpa- denganmu.

Hidup menjauh dari gengsi memang sulit. Prestige menjadi salah satu yang penting, diinginkan bahkan dibutuhkan. Apa yang orang-orang pikirkan tentang diri kita menjadi sangat penting. Setiap diri berdiri dalam karakternya masing-masing sebenarnya, namun sulit jika kita tidak sepaham maka kita dianggap tidak memiliki karakter kuat. Parah lagi sebagian dari mereka adalah plagiat karakter pula. Banyak juga yang memang sengaja import karakter dari negeri seberang. Lebih-lebih lagi jaman yang mengagungkan modernitas dan kealiman dalam satu packaging utuh. Semua barang dipenuhi barang import. Jati diri pun import, pengetahuan, wawasan, pemikiran, sudut pandang semua import tanpa diolah lagi dalam kearifan lokal. Gengsi, dominan menjadi kebutuhan. Kita tidak perlu lagi seperti dulu, membeda-bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Manusia dengan mudah menyebut keinginan sebagai kebutuhan atau menyebut kebutuhan menjadi keinginan. Bisa juga menyebut impian sebagai harapan atau sebaliknya, maka wajarlah mimpi hanya dibiarkan menjadi mimpi yang mengapung-ngapung di tengah lautan berharap disambar burung lalu dilemparkannya ke arah angkasa.

Kebahagiaan sendiri seringkali luruh saat kita melihat orang lain bahagia. Mengukur bahagia sudah tidak lagi sulit. Saat kita memiliki apa yang sama dengan dimiliki orang lain, itu salah satu ukuran bahagia. Kita bahagia karena taman bunga yang sedang tumbuh, seketika kebahagiaan itu luruh karena melihat kabar kawan lama liburan ke eropa. Skill dan hoby kita biarkan terbuang begitu saja karena seorang kawan telah sukses melamar menjadi pegawai bank,lalu kita kepanikan untuk mengejar ngejar hal yang sama persis. Lantas kebahagiaan itu datang dari mana? Kehidupan orang lain? Kita merasa bahagia setelah menemui pembanding dan kebahagiaan kita akan luruh setelah diperbandingkan. 

Hidup menjadi terasa terpojok saat kita memilih kebahagiaan yang berbeda dengan yang lain. Kita terasing saat kita melompati salah satu fase yang lumrah dalam hidup orang-orang. Kita tersingkir saat kita menyatakan cita rasa yang berbeda dengan yang pernah ada. Hidup ini memang tidak boleh berkelok, hidup ini tidak boleh melompat, hidup ini tidak boleh membuat jalur jalur baru, hidup ini harus terus menerus melewati jalan yang sama dimana smua orang melewatinya. Melewati jalan sama yang tidak pernah diperbaharui aspalnya. Jalan sama yang sudah berubah panorama sekelilingnya. Jalan sama yang sudah berubah hambatannya. Jalan sama yang juga harus sama cara berjalannya. 

Kapan pikiran-pikiran kita sendiri kita gunakan? Berapa persen pikiran-pikiran kita yang kita lakukan? Kapan keinginan-keinginan kita sendiri yang tidak muncul dari rasa iri? Kapan kita tidak berubah rubah dan terus berubah karena pengaruh-pengaruh keinginan orang lain dan definisi keberhasilan menurut orang lain? Menanyai kembali pikiran dan rasa dalam diri. Rasa yang menjadi titik harapan terakhir saat nalar tidak mampu lagi menembus, pun sudah termanipulasi. Segala bentuk ketakutan sudah memanipulasi rasa. Persaingan, iri, rasa tidak aman, semua sudah membuat diri kita jauh dari diri sendiri. Itu semua yang kulihat pada sebagian besar orang-orang di sekitarku. 

Entah apa makna sebenar benarnya bahwa Tuhan adalah maha pembolak balik hati. Entah apa makna bahwa rasa manusia seperti gelombang lautan, kadang pasang kadang surut. Ya, Tuhan berkekuatan membolak balik, merubah rubah perasaan manusia namun jika kita memberi waktu diri bicara dengan diri sendiri bisakah kita tanyai dari mana asalnya hati yang berubah? Salah satunya, salah satunya sekali lagi salah satunya saja adalah dari pikiran-pikiran orang-orang. Rasa takut, rasa khawatir, rasa sungkan dan lainnya.

Begitu banyak hal diatas, menjadi alasan kita merubah keputusan. Berbalik arah. Mundur. Beralih sudut pandang dan yang fatal adalah menyerah. Memiliki sesuatu tanpa tahu maknanya, itu bagian dari trend yang memang sudah wajar. Melakukan apa-apa yang biasa dilakukan orang itu menjadi batas kita dinyatakan normal. Memiliki keinginan dan kebutuhan serta impian yang sama dengan mayoritas penduduk setempat ya tentu itu adalah batas dimana kita tidak dikatakan gila. Lantas dimana perlunya kita menanyai diri sendiri? Mengenali diri? Jika kita sendiri tidak berani lagi menanyai diri jangan berharap orang lain mau menanyai apa yang kita maui. Yah minimal kita sendirilah yang menanyai apa yang kita rasakan dan pikirkan. Dari beberapa orang yang berhadapan dengan kita, berapa dari mereka yang menanyai apa yang sedang kita rasai atau pikirkan? Pantas saja hanya massanger, jejaring social (BBM,Facebook, Twitter, segala media chating, dll) yang selalu menanyai kita. What’s your mind!! Betapa baiknya para jejaring-jejaring social itu.

Senin, 13 Januari 2014

DIRI DAN KEHIDUPAN

 DIRI DAN KEHIDUPAN


Kehidupan telah menempatkan kita sebagai sosok manusia di bumi. Antar manusia diberi kesamaan dalam fisik jika ada perbedaan itu tipis dan umumnya dapat terlihat. Mungkin satu orang berbadan kurang lengkap namun pada bagian lain memiliki kesempurnaan yang lebih dari lainnya. Mungkin satu orang berbadan lengkap namun pada bagian lain tidak sesempurna manusia yang dianggap normal. Ada pula manusia yang memiliki pemikiran, jiwa yang berbeda dengan manusia kebanyakan. Bentuk fisik, jiwa atau pemikiran yang “Lain” sering kali dianggap sebagai “kelainan”, padahal perbedaan itu bisa dianggap sebagai bagian dari identitas diri. Lantas pernahkah kita mencari tau siapakah “aku” di hadapan jagat raya ini? Dimanakah aku dalam peta bumi ini? Harus seperti apa dan sebebas apa aku?

DIRI DAN CERMIN
Aku mencari jawaban melalui bibir banyak manusia yang menyampaikan pengakuan-pengakuan pemikirannya. Aku mencari tahu dari sikap, gerak dan kasus yang sering menjadi refleksi sudut pandangnya. Aku memaksakan diri untuk lebih dalam mencari tahu diriku melalui pertemuanku dengan banyak orang, berdekatan dengan kehidupannya sampai aku hampir hafal pola-pola yang sama antar manusia. Terkadang aku menemukan sikap-sikap, pemikiran yang fenomenal. Beberapa kali meskipun jarang, kusenggangkan waktu untuk 2-3jam berada di coffee shop yang berada di salah satu pintu keluar-masuk sebuah mall di Solo. Aku melihat keserupaan dalam style mereka bahkan beberapa wajah mereka terlihat sama. Siapa yang mengikuti siapa. Kita gemar menyeragamkan style, menyeragamkan pemikiran, sudut pandang bahkan jiwa-jiwa kita pun kadang latah namun tentang tujuan hidup apa kita masih akan sama? 

Senior adalah satu sosok penting dalam hidup kita. Orang-orang terdahulu mempengaruhi kita namun bukan berarti kita tidak lagi punya pilihan lain dalam hidup yang sebagian besar telah tercetak oleh para senior. Kita semua tahu bahwa takdir tidak mungkin tertukar dan tanggung jawab di tangan masing-masing. Aku menggaris bawahi soal takdir karena aku belum mengerti tentang kesamaan takdir dan kodrat, sedangkan sebagian besar manusia menyamakannya. Kodrat lebih kumengerti sebagai efek, fungsi dari penciptaan kita yang kadang istilah kodrat dipakai untuk meninggikan pihak tertentu. Sedang takdir kuanggap sebagai jalan hidup yang harus kita jalani, termasuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kodrat yang telah disepakati orang-orang. Persoalan tanggung jawab tentu ada  di tangan masing-masing, misalkan kita sudah bayar mahal untuk tiket sebuah alat transportasi, namun kita tidak bisa sepenuhnya menuntut keselamatan pada pengendali alat transportasi dan menuntut pada istansi manapun sekalipun secara tertulis kita adalah tanggung jawabnya.

Mencari lewat cermin. Kita memiliki cermin-cermin kehidupan, dalam istilah jawa disebut “kaca benggala”. Mejadikan orang lain sebagai seseorang yang berada dalam cermin di hadapan kita, akan mempermudah kita untuk menempatkan diri sekaligus mengerti tentang bagaimana diri kita. Ketika kita menghadapi seorang yang tidak kita suka, tentu kita akan malu untuk menggunakan cara yang sama karena kita akan jadi orang yang kembar dengannya. Ketika kita menghadapi seseorang yang kita sukai perangainya, kita akan menyamakan gerak untuk bersikap mirip karena kita senang diperlakukan demikian. Bercermin pada orang lain membuat kita dapat mengapresiasi sudut pandang orang lain. Apresiasi  sangat penting, karena dari situlah kita tidak hanya memahami namun juga dapat menghargai tentang jalan yang ditempuh orang lain. Hidup manusia tidak pernah lepas dari proses imitasi pada alam. Setelah benar mengimitasi lalu kita berada pada proses meng-improve, memadukan menjadi sesuatu baru yaitu, kita. 

Ketika aku bercermin aku pernah menanyai diriku, kenapa harus bercermin? Aku sudah tidak perlu cermin untuk merapihkan rambut yang cepak, aku juga tidak perlu melihat bedak, eyeliner, eye shadow yang nylepret karena aku tidak berdandan seperti itu. Ternyata bercermin bukan hanya untuk menjadikan kita lebih baik, ingin lebih dan lebih serta meniadakan sendiri kecantikan-kecantikan yang kita punya. Bercermin berguna untuk menandai diri. Oh aku adalah seseorang yang berkulit gelap, aku adalah seseorang yang bermata sipit, aku adalah orang yang berhidung tidak terlalu mancung. Itulah aku. Itu identitas fisikku. Cermin dapat membantu kita mendefinisikan diri, memperbaiki diri sesuai dengan kapasitas kita, yang pasti rasa mencintai diri kita. Pujian muncul dari orang tercinta atau orang yang suka berbasa basi namun kecintaan pada hal terkecil diri kita hanya bisa kita lakukan sendiri. Pada ruas jari-jari, pada lubang telinga kita, pada ketiak kita hanya kita yang memahami. Begitulah cermin kadang lupa kugunakan atau kusalahi penggunaannya. Seringkali kita terjebak dengan cermin. Mengkritisi diri yang berkulit kelam dan membanding-bandingkannya dengan yang lain lalu mencoba menyamakan dengan berbagai cara. Membandingkan hidung dengan yang lain lalu mencoba menyamakannya dengan berbagai cara. Mungkin inilah jawaban kenapa kebanyakan orang berwajah setipe bahkan aku melihat tidak ada aksen-aksen di wajahnya. Apakah mungkin begitu juga tentang pemikiran, kegemaran bahkan tujuan hidup?   


BAHAN DIRI DAN TUJUAN HIDUP
November lalu diseminarkan judul makalah “Pemuda dalam Budaya Jawa” di Teater Besar ISI Surakarta, dengan tiga pembicara yang kesemuanya laki-laki dan memberikan jabaran dengan contoh-contoh lakon pria juga. Pada banyak kasus memang perempuan harus nyata lebih cerdas mengadopsi, memilih dan mengambil pelajaran tentang kehidupan karena keteladanan itu umumnya ditempelkan pada sosok pria. Dalam hal ini aku lebih ingin berbagi bukan tentang ­gender, melainkan tentang kedirian kita. Hal yang penting dalam seminar ini bagi kedirian salah satunya adalah mitos selain patos(karakter) dan logos(ilmu-ilmu yang ada pada diri kita). Mitos didefinisikan sebagai hal-hal yang masih menjadi tanda tanya dan kebutuhan kita adalah menguaknya. Mitos tentang diri kita biasanya diidentikkan dengan link yang menghubungkan antara kita dengan kehidupan lintas generasi dan dengan alam semesta. Siapakah leluhur-leluhur kita, sehebat apa mereka, apa yang telah mereka lakukan di dunia ini lalu sampai pada diri kita, seperti apa. Siapakah kita, apa yang sudah kita lakukan, apa yang selama ini kita pikirkan setiap hari, apa yang masih belum kita gerakkan dari diri kita. Menilik kembali siapa leluhur kita seringkali menjadikan kita bersemangat untuk berbenah. Tidak ada satupun dari kita yang lahir dari leluhur yang tidak bermakna. Semua dari kita lahir dari orang-orang besar.

Siapa kita di jagat raya ini, hubungan kita dengan alam. Bagaimana matahari membagi hangatnya tanpa berkoar meminta sejuk. Mahluk-mahluk yang kaki-kakinya tertancap pada tanah tak mampu menggerakkan tubuhnya kecuali jika angin menjabat tangannya, bisa memberikan bunga yang setiap mata akan jatuh cinta. Rumput-rumput yang tidak pernah nyata minta diperhatikan selalu tumbuh tanpa terpelihara dan menjadi makanan enak untuk ternak. Mahluk yang katanya juga memiliki otak namun tidak mampu berpikir seperti manusia kadang memberikan rasa bahagia untuk manusia entah karena apa yang dihasilkannya atau kelucuannya, ketangkasannya. Aku secara pribadi merasa sangat perlu menata kembali alur hidup ku jalani tanpa alasan. Setiap manusia memiliki tujuan dan mimpi-mimpi sepanjang hari. Bagi mereka yang sudah merasa berhasil dalam hidup mungkin merasa tidak perlu lagi menanyakannya. Mungkin memang sebagian orang tidak merasa butuh, atau mereka takut hidupnya akan mundur selangkah, kesuksesan akan berkurang. Bagi beberapa orang rasa hampa bisa dibayar dengan tempat hiburan. Bagi beberapa orang kesuksesannya bisa di sandarkan pada orang lain. Bagi beberapa orang mencari perhatian itu lebih penting ketimbang mencari respect dan nilai atas hidupnya, sehingga merasa tidak perlu mengetahui siapa dirinya sendiri. 

Siapakah kita sangat penting untuk menentukan tujuan hidup. Untuk kita tau apa yang akan kita bawa jika pergi nanti dan apa yang harus ditinggalkan bagi yang di bumi. Sesederhana kita memasak, ketan dan beras, keduanya cenderung memiliki bentuk yang sama namun keduanya adalah adalah bahan yang berbeda. Jika tujuan kita membuat kue lemper tentu tidak akan sempurna jika kita menggunakan beras sebagai bahannya. Pengetahuan tentang bahan akan menentukan, kita akan mengimitasi makanan berjudul apa lalu meng-improve nya menjadi apa lalu menjadikan makanan baru yang bagaimana.

Siapa kita, apa yang sudah pernah kita bikin diwaktu kecil, apa yang sudah pernah kita usahakan, siapa leluhur kita, bagaimana cara mereka hidup, apa potensi mereka, apa kemampuan kita, kesemuanya  penting untuk menentukan tujuan kita. Penting untuk mempertahankan semangat kita dalam berjuang dan bersabar. Mungkin kita tidak persis seperti apa yang sudah dilakukan kakek nenek kita, namun ada semangatnya, ada cara yang sama untuk membuat perubahan. Ada makna yang bisa kita tangkap dari kehidupan orang lain, ada nilai yang kita rasakan dari hidup kita, ada pergerakan. Tidak semua harus serba seragam dan seperti kebanyakan orang, karena diri kita utuh diciptakan untuk membuat pilihan dan tujuan hidup sendiri-sendiri. Hati kita dan otak kita, tidak dititipkan pada senior kita, tokoh agama kita, pemerintah kita atau lembaga-lembaga akademis kita. Hati dan otak kita diserahkan pada tubuh kita masing-masing, dengan pemikiran yang terserap dari mana saja. Tubuh dan jiwa kita dibentuk dengan cetakan yang berbeda-beda. 

Bagiku, penting artinya menguasai diri sendiri. Mengetahui diri sendiri. Seandainya kita lain, bukan karena kelainan. Seandainya kita sama kita tau alasannya. Seandainya kita memiliki tujuan, kita tahu tujuan kita adalah tujuan paling pas untuk manusia berbahan 'aku'.

Sabtu, 30 November 2013

RINDU

Akhirnya rinduku ku larung...
Ku pasrahkan pada arus...
Kutitipkan pada angin...
Kubiarkan ikut menjelajah pd sungai-sungai

Sapa, sudah jadi jatahnya waktu untuk menyampaikannya
Mimpi bertugas menyampaikan pelukan
Ciuman hangat, menjadi kewajiban diri untuk mengkhayalkan
Tragis, aku dipaksa romantis untuk memikat waktu
Sial!! Aku harus menjadi nakal menggodai angin
Lebih gila ak harus cerdas mengelabuhi arus agar berubah arah
Atau harus meneror Tuhan untuk membawamu di sampingku?

Berulang, waktu antarkan aku pada lelah tak terluap
Lelah mencari celah utk menyelipkan senyum sebelum km lelap.
Ya...kadang aku diam mengumpulkan aksara untuk kulontar
Seperti berjudi, bertaruh senyum atau murung yang menghantarmu tidur
Seandainya rindu bisa di skala sebagaimana peta, pilih kuperkecil saja ukuranya
Sampai tak terlihat seperti kota kecil dalam peta 
Hampir hilang tak terjamah rasaku sendiri.

Jika harus kupilih kamu atau rindu
Aku memilih mengantar pergi si rindu dr hidupku
Ak muak,
Rindu sering menjebakku menjadi malam-malam candu
Rindu menodai pagi yang putih
Rindu melunturi air hujan teduh yang bening 

Tapi rindu tak pernah menjadikanku sekarat
Lihat saja, jika muak memucak
Roboh sudah kerajaan angkuh lebih kuat dr baja itu
Kamu, menjadi kerajaan tanpa pintu,
Tanpa dinding, tanpa pasukan, tanpa senjata
Hanya Kamu dan singgasanamu.

Rinduku membawa kita beradu kata
Beradu mata...beradu apa saja.
Membawa kita berhadapan, mengantarkanmu
Kerinduanku yang akhirnya akan menjadi kerajaanmu!!

Rabu, 27 November 2013

Semarang, Bersama Cinta

Semarang, Bersama Cinta


12 jam bersamamu dalam perjalanan dengan mata menatap sama-sama ke depan. Satu fokus yang sama namun kita tak hilang sadar untuk menikmati rute dan cerita yang saling kita tuturkan. Sebentar menengok wajahmu yang teduh, matamu yang sering melamun lalu senyumku yang tanpa tujuan membuatmu menghadapku dan semakin jelas matamu menghadap aku bingung. Akhirnya aku membawamu pada perjalanan ku dulu. Kota yang selalu kudatangi dan selalu membuatku bingung dan ruwet.
Semarang. "Aku memperkenalkanmu padanya. Pertama kali kita menjejakkan kaki bersama-sama di sebuah kota yang biasa.sebagaimana kita mendatangi panggung-panggung yang dikata orang sangat biasa.
Bersamamu, cerita menjadi baru. Jika kita mencetak buku sejarah tentang sebuah kota, tentu sejarah versi kita akan berbeda. Aku menikmati cara kita yang selalu mengambil sudut yang lain dari kebanyakan orang. Kota yang bagi mereka biasa bagi kita rangkaian, adalah informasi, pemahaman dan kepercayaan.

Tidak kupungkiri perjalanan untuk cinta. Hari ini memang untuk cinta, tapi besok perjalamam ini akan menjadi bagian dari buku-buku penuh romantisme, buku yang sarat cerita lokal dan akan mendunia, buku yang digandrungi banyak orang di tahun 2015 nanti. Cinta membuat kita belajar lebih mudah untuk mengenal hal-hal baru, cinta membawa kesediaan untuk karya-karya dalam kerja keras kita.Sebagian semangatku tumbuh kembali bersama perjalanan perjalanan kita. 3 hari untuk banyak cerita istimewa. 2jam terakhir perjalanan menuju pulang. Kurasai dan kurenungkanbanyak rasa. Aku ingin lebih jauh lagi mengerti dunia lebih dalam lagi mengerti dunia lebih lama lagi hidup dan bersamamu. Iya...kita akan bersama dalam kota-kota yang sering kita dengar dari orang orang atau dari majalah-majalah. Aku ingin bersamamu menyambut matahari lalu mengikhlaskannya pergi untuk menyambut bintang lalu bulan. Aku ingin merasai air tanah dari sumber yang berbeda, mempersilakan masuk udara ke tubuhku dr berbagai iklim, bersamamu.

2jam kulihat wajahmu tanpa cela sambil mendengar kalimat-kalimat spontanmu yang marah-marah. Telinga sengaja kubiarkan saja terbuka, terlalu bodoh jika kusumpal telingaku dengan tisue karena mendengar ocehanmu itu lebih menarik ketimbang mendengar radio yang sedang nyala di hadapan kita.  Mendengar segala ocehan namun pikiranku sudah berada pada kita setahun, 2 tahun, 5 sampai berpuluh-puluh tahun mendatang. Semoga cinta diantara kita membawa kehidupan-kehidupan baru yang panjang usia, pemikiran-pemikiran baru yang membawa manfaat, sehingga cinta kita akan jauh lebih panjang dari usia manusia.